Pendidikan Iklim dan Lingkungan Hidup : Gempa Bumi

Dear ICSF friends,

Rabu, 31 Maret 2010, di SD Negeri Babakan 4, ICSF telah melakukan kegiatan Pendidikan Iklim dan Lingkungan Hidup (PILH) dengan topik mengenai gempa bumi. Pada awalnya para murid diberikan pemahaman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan gempa bumi seperti penyebab terjadinya gempa bumi dan bagaimana gampa bumi itu terjadi. Anak-anak itu sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh pembimbing mereka.

.

Kegiatan dilanjutkan dengan menonton sebuah film kartun mengenai gempa. Melalui film kertun tersebut, para murid mengetahui bahwa gempa terjadi akibat adanya pergeseran lempeng bumi. Film itu pun mempermudah murid-murid untuk memahami banyak hal mengenai gempa. Setelah menonton film, dilakukan diskusi kelompok yang dipimpin oleh seorang anggota ICSF. Dalam diskusi tersebut diberikan informasi tentang cara-cara menyelamatkan diri saat terjadinya gempa bumi, terutama ketika anak-anak sedang berada di sekolah.

Berikut merupakan langkah-langkah menyelamatkan diri yang dapat dilakukan saat terjadinya gempa.

  1. Bersembunyi di bawah meja
  2. Saat gempa mulai mereda, segera keluar dari ruangan kelas, dimulai dari siswa yang duduk paling jauh dari pintu.
  3. Tutupi kepala menggunakan tas.
  4. Keluar dari kelas dengan berbaris 2-2.
  5. Lari menuju lapangan terbuka. Hindari pohon, tiang, dan bangunan-bangunan.
  6. Berkumpul di lapangan dengan membentuk lingkaran.

Murid-murid pun mencoba memahami dan menghapal langkah-langkah tersebut dengan cara menyebutkannya berulang-ulang. Bagian yang paling disukai para murid adalah saat dilakukannya simulasi penyelamatan diri saat gempa. Awalnya salah satu anggota ICSF berpura-pura mengajar di kelas dan tiba-tiba terjadi gempa. Murid-murid langsung melakukan langkah-langkah penyelamatan diri. Simulasi pertama berjalan agak kacau sebab mereka masih bingung untuk melakukan apa saat itu. Namun dengan bimbingan para anggota ICSF, murid-murid tersebut semakin baik dalam melakukan simulasi. Simulasi penyelamatan diri ini dilakukan sebanyak dua kali sehingga murid-murid paham betul apa yang harus dilakukannya saat terjadi gempa. Sebenarnya mereka menginginkan simulasi dilakukan sekali lagi tetapi sayang sekali waktu yang disediakan untuk pelajaran PILH saat itu telah habis. Meskipun demikian para murid kelas 5 SD Negeri Babakan 4 bahkan para anggota ICSF sangat senang dengan PILH hari itu.

Visit our facebook and vodpod page for more photo and video gallery..

.

Journal by Amelia Puspita

Posted in Our Activities..! | 2 Comments

The Facts About Bottled Water

Presented by Online Education

Posted in Climate Fun Facts | 2 Comments

Pendidikan Iklim dan Lingkungan Hidup : Sampah

.

ICSF kembali lagi ke SD 01 dan SD 03 Darmaga Bogor. Seperti biasa keceriaan terpancar diwajah siswa siswi kelas 5 saat menyambut kakak-kakak dari ICSF, mulai dari mereka yang datang kemudian mencium tangan, ngobrol-ngobrol, dan ada juga yang teriak memanggil nama kita.  Kedatangan ICSF dalam rangka memberikan pengetahuan tentang pendidikan lingkungan hidup  minggu lalu rupanya masih hangat diingatan mereka. Kedatangan ICSF untuk kali kedua pada 13 Februari 2010 kemaren mengusung tema tentang “sampah”. Seperti pada pertemuan sebelumnya temen-temen dari ICSF langsung memasuki kelas yang telah dibagi dan melaksanakan jobdesk masing-masing. Tema sampah rupanya membuat mereka sangat antusias mengikutinya.

.

“Temen-temen siapa disini yang masih buang sampang sembarangan?”

“sayaaaaa kaaaaaaak,,,,,,?” (serempak)


Dibuka dengan pertanyaan tersebut diskusi tentang ‘sampah’ pun dimulai.  Mulai dari definisi, jenis-jenisnya, contoh-contoh sampah organik dan anorganik, sumber-sumber, dan dampak serta daur ulang dari sampah.  Diskusi kelompok-kelompok kecil dengan duduk melingkar didampingi dengan satu kakak pendamping dari ICSF rupanya semakin membuat mereka mengerti dan paham tentang apa itu sampah.  Berbagai pertanyaan, games, reward dan diskusi pun terus berlangsung sangat heboh dalam waktu yang tak begitu lama, kira-kira 60 menit.  Dan yang paling menarik dari PLH kedua kali ini adalah ikrar tentang sampah, dengan gaya tangan kanan di taruh dada sebelah kiri, mereka serentak menyatakan ikrar tentang sampah.

.

“Saya berjanji, mulai saat ini saya akan membuang sampah di tempat sampah.  Jika saya melihat sampah di sembarang tempat, saya akan mengambil dan membuangnya di tempat sampah.  Jika saya melanggar, saya bersedia dipanggil perusak lingkungan.”


Kegiatan PLH pun berakhir seiring dengan ikrar sampah tersebut, tak lupa juga diberikannya PR (membuat cerita tentang apa yang kalian perbuat jika melihat orang yang buang sampah sembarangan) yang dikumpul pada PLH ke-3 pada 20 Februari mendatang.  Dengan wajah sumringah mereka pulang, berjejer-jejer bersalaman dengan kakak-kakak dari ICSF.  Semoga apa-apa yang temen-temen ICSF lakukan kemarin bermanfaat buat mereka, seperti pepatah bijak yang mengatakan bahwa “sampaikan pengetahuan walau hanya seujung kuku”.


Semangat temen-teman ICSF…..teruskan perjuangan kita heheheh….

.

Journal by Ria Hamida Agustina.

Posted in Our Activities..! | 2 Comments

Sosialisasi EcoMonopoly

.

Pada tanggal 23-24 Desember 2009 kemaren telah dilakukan sosialisasi ecomonopoli di SDN 03 Dramaga, tepatnya siswa SD kelas 5.  Sosialisasi ini dihadiri oleh Annnisa sebagai project manager dan pencetus ide ecomonopoli, Rahmi Ariani, Diana Rumondang, Namira Andiani, Latifa, Diyah, Nurika, Huda, Marcha. Pada hari pertama sosialisasi dilakukan dari jam 09.30 pagi dengan memberikan pemahaman tentang lingkungan, global warming dan climate change. Dengan demikian diharapkan mereka memahami makna kenapa mereka harus disuguhi oleh permainan ecomonopoli. Setelah itu mereka diberikan sedikit pemaparan tentang permainan ecomonopoli itu sendiri. Pada awalnya untuk hari pertama hanya untuk perkelanan dan penjelasan tentang lingkungan dan global warming namun karena waktu masih banyak tersisa akhirnya dilanjutkan dengan bermain ecomonopoli sampai jam pulang sekolah 11.00.

.

Disebabkan karena keterbatasan papan permainan, siswa yang ikut bermain hanya 12 orang dengan 6 orang disetiap papan permainan. Pemilihan anak yang bisa ikut permainan ini dilakukan dengan memberikan mereka pertanyaan seputar apa yang dijelaskan kepada mereka sebelumnya. Lalu bagi yang bisa menjawab merekalah yang diizinkan ikut bermain. Bagi yang tidak terpilih, agar mereka tidak mengganggu bagi yang bermain, dipersilakan untuk ikut melihat beberapa video lingkungan, global warming dan climate change.

Mendengar penjelasan tentang lingkungan dari kartu green&hot yang siswa dapatkan ketika bermain

Selama permainan, mereka didampingi agar bisa mendapatkan pesan dari permainan ini, dan bisa mengerti ada beberapa perbedaan dalam permainan. Dua kelompok ini didampingi oleh Rahmi Ariani dan Nurmila. Sedangkan bagi anak-anak yang menonton video ditemani oleh Annisa. Bisa dibilang mereka sangat antuasias mengikuti jalannya permainan. Setiap ada pembelian blok taman nasional (kalau di monopoli biasa adalah sebuah Negara) mereka harus membacakan apa yang tertulis di kartu tersebut agar temannya juga bisa mendengarkan. Selain itu di kartu kesempatan dan dana umum juga diberikan pesan-pesan dan pengetahuan tentang lingkungan.

Sebagian siswa ada yang bermain, sebagian ada yang menonton video tentang bumi

Kendala yang dihadapi selama permainan yang membuat anak-anak tidak fokus adalah karena suasana kelas yang ribut disebabkan teman-teman mereka yang tidak main malah meribut di kelas walaupun telah disuguhi dengan beberapa video lingkungan. Selain itu karena mereka tidak sabaran melakukan permainan ini, ketika seorang temannya membacakan pengetahuan dari sebuah kartu mereka malah bilang “ah lama”. Ini disebabkan karena di satu papan permainan ada terlalu banyak pemain yaitu 6 orang. Akhirya setelah jam sebelas siang karena jam sekolah telah berakhir, kita mengakhiri pula sosialisasi pada hari itu.

Pada hari berikutnya kita kembali lagi ke SDN 03 Darmaga pada jam 7 pagi. hari tersebut yang ikut sosialisasi lebih banyak yaitu Annisa, Rahmi Ariani dan Namira Andiani, Latifa, Diyah, Nurika, Huda, Marcha. Sosialisasi yang dilakukan lebih lama yaitu sampai jam 10.00. Hari ini sosialisasi tidak hanya dilakukan dengan bermain ecomonopoli, tetapi mereka juga diajarkan membuat kantong dari kertas Koran, lomba mengumpulkan dan memisahkan sampah organic dan anorganik, serta memperlihatkan video lingkungan sekali lagi. Permainan ecomonopoli pada hari tersebut dengan menggunakan tiga papan permainan dan disetiap papan permainan hanya dimainkan oleh 4 orang anak. Jadi total anak yang bermain tetap 12 orang. Hal ini dilakukan karena jika satu papan permainan ada 6 anak dirasa kurang efektif yang menyebabkan mereka tidak sabaran sehingga mereka tidak mendengarkan sewaktu sebuah kartu dibacakan. Anak yang dibolehkan ikut bermain adalah anak yang hari kemaren belum ikut bermain. agar semua anak bisa ikut bermain, permainan ini dibagi menjadi dua sesi.

Mendengar penjelasan dari isi permainan, sehingga siswa tidak hanya bermain dengan uang saja, tetapi memahami esensi lingkungan


Selagi beberapa anak bermain ecomonopoli, sebagian lagi diajarkan untuk membuat kantong dari kertas Koran dan sebagian lagi mengikuti lomba mengumpulan dan memisahkan sampah organic dan anorganic. Untuk dua acara tersebut diberikan hadiah bagi yang paling memperhatikan dan membuat kantong lebih bagus dan bagi yang tercepat dan terbanyak dapat memisahkan sampah organik dan anorganik. Selama acara dirasakan bahwa permaian ecomonopoli bisa lebih efektif dari hari sebelumnya karena tersedia 3 papan permainan dan setiap papan permainan hanya ada 4 orang pemain. Selain itu siswa dirasa lebih besemangat karena mereka bisa mengikuti lomba dan mendapatkan hadiah.

.

Setelah jam 09.30, permainan diakhiri dan dilanjutkan dengan pembagian hadiah. Setelah itu mereka juga diberikan sebuah ecocard yaitu sebuah kartu yang bisa menuliskan semua kegiatan mereka selama liburan yang merupakan kegiatan mencintai lingkungan. Setiap mereka menuliskan sesuatu harus juga mendapatkan paraf dari orang tua atau saudara mereka. Hal ini dilakukan agar mereka tidak curang dengan hanya menulis tetapi tidak melakukan hal tersebut. Ecocard ini akan diambil kembali pada tanggal 6 Januari dimana sekolah sudah dimulai kembali. Pada hari ini juga akan diberikan hadiah menarik berupa 1 set ecomonopoli bagi yang paling banyak melakukan hal positif untuk lingkungan.

.

.

Sesi berfoto bersama dengan para siswa dan volunteer

.

Note :

Ecomonopoli sendiri adalah sebuah permainan monopoli dengan mamasukkan unsur pengetahuan tentang lingkungan kedalamannya. Diharapkan dengan permainan ini bisa menumbuhkan rasa kepedulian lingkungan dalam diri anak sedari dini. Dengan demikian permainan ecomonopoli ini bisa dibilang adalah permainan yang sangat edukatif. Jadi sambil bermain sambil belajar untuk mencintai lingkungan serta menambah ilmu pengetahuan. Permainan ini menjadi best project dari bank Danamon dan didanai. Pencetus ide dari ecomonopoli adalah Annisa Hasanah, jurusan LANSKAP angkatan 44.

.

Journal by Rahmi Ariani.

Posted in Our Activities..! | Leave a comment

Workshop with Green School Community

Sabtu 21 November 2009, tepatnya di SMA Tugu Ibu Depok, ICSF bersama dengan Green School Community (GSC) mengadakan kegiatan workshop untuk SMA-SMA di Depok dengan tema besar daur ulang. Hidup hemat dan daur ulang dikemukakan sebagai upaya yang dapat dan tidak sulit dilakukan bagi pelajar sebagai langkah awal namun berarti yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah global warming dan climate change. Selain memberikan gambaran umum mengenai global warming dan climate change tujuan kegiatan ini adalah membentuk pola pikir untuk hidup hemat dan meningkatkan kreativitas dalam mendaur ulang sampah yang sudah tidak terpakai.

Kegiatan yang tersusun atas 3 sesi ini tidak dilakukan dalam bentuk diskusi panel yang monoton dengan presentasi biasa namun dilakukan dengan konsep interaktif dan diskusi kelompok. Oleh karenanya sekitar 50 siswa termasuk panitia yang berasal dari SMA Tugu Ibu, SMA Sejahtera 1, SMA Persatuan Sekolah Kristen Depok (PSKD) 7, SMAN 4 Depok, dan SMA Yayasan Pendidikan Masyarakat Republik Indonesia (Yapemri) yang menjadi peserta dalam kegiatan ini diajak untuk berpikir dan berbicara aktif dari awal sesi pertama.

Kegiatan berlangsung seru, terlihat dari rasa keingintahuan peserta dan antusiasme mereka hingga akhir acara. Dibuka dengan sambutan dari pihak sekolah, ICSF, dan GSC. Berikutnya, peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan tiap kelompok didampingi teman dari ICSf sebagai fasilitator. Sesi I diaawali dengan pemutaran video singkat yang kemudian peserta diajak untuk menyampaikan pendapatnya mengenai apa yang mereka lihat di video tersebut. Hampir semua kelompok sependapat dan menyatakan bahwa global warming telah terjadi, menyebabkan perubahan iklim dan mendatangkan bencana besar bagi makhluk hidup. Namun sebenarnya inti video tersebut adalah menyampaikan isu climate change dan global warming. Artinya, isu ini begitu penting sehingga harus disebarluaskan. Pertanyaan mengapa harus disebarluaskan dilemparkan kembali kepada peserta, kali ini sebagian kelompok menjawab “Agar menyadarkan manusia untuk mencintai lingkungan karena bumi semakin rusak akibat ulah manusia sehingga cepat atau lambat makhluk hidup pun akan mengalami kesusahan”. Berikutnya diberikan waktu untuk diskusi kelompok bersama masing-masing fasilitator agar keluar pendapat mengenai perbedaan GW dan CC. Suasana semakin seru ketika dibicarakan kembali di forum, pendapat-pendapat saling melengkapi, bahkan ada yang menjelaskan dengan gambar dan skema akan pemahaman mereka mengenai GW dan CC. Di akhir sesi ini dijelaskan kembali GW dan CC serta hal-hal yang berkaitan dengannya seperti unsur-unsur cuaca dan iklim, gas-gas rumah kaca, ozon, dan lain sebagainya.

Sesi II merupakan diskusi mengenai hubungan dampak GW dan limbah/sampah dengan menampilkan gambar-gambar terkait. Masing-masing perwakilan kelompok memberikan pendapat mengenai solusi yang dapat dilakukan oleh pelajar, namun masih ada beberapa yang menjawab solusi yang umum bukan solusi yang dapat dilakukan sebagai pelajar seperti melakukan konservasi dan mengurangi bahan bakar. Kemudian peserta diajak kembali menonton video singkat mengenai hutan yang disampaikan oleh teman-teman dari sekolah dasar. Pesan yang ingin disampaikan berkaitan dengan video tersebut adalah bahwa sebagai pelajar kita dapat menunjukkan kepedulian kita dengan menghemat kertas dan mendaur ulang kertas yang sudah tidak terpakai, juga sampah-sampah lainnya. Pesan lainnya adalah bahwa teman-teman kecil kita dari sekolah dasar saja peduli, seharusnya kita sebagai pelajar SMA juga bisa peduli. Berikutnya diberikan waktu untuk diskusi kelompok mengenai pola hidup hemat yang dapat dilakukan sebagai pelajar. Sungguh menarik ketika pendapat-pendapat yang terlontarkan menyempurnakan jawaban pertanyaan tadi.

Pola hidup hemat yang dapat diterapkan sebagai pelajar yaitu menurut diskusi semua kelompok adalah:
– hemat listrik, tidak membiarkan charger HP tetap pada stop kontak setelah selesai
– Membuang sampah pada tempatnya.
– Mengurangi penggunaan tissue dengan menggunakan sapu tangan.
– Mendaur ulang sampah.
– Menerapkan prinsip 80-20, 80% baca buku dan 20% hiburan sehingga menghemat listrik.
– bangun pagi dan matikan ac begitu bangun.
– Mandi dengan shower atau setiap mandi dijatah tidak lebih dari 2 ember
– Matikan listrik yang tidak terpakai.
– Hemat kertas/Menggunakan kertas 2 sisi.
– Mengurangi pemakaian styrofoam
– Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor/Pergi sekolah dengan sepeda atau jalan kaki.
– Membawa bekal dari rumah sehingga bisa mengurangi sampah dengan tidak jajan

Kemudian acara dilanjutkan ke sesi III. Sesi ini diawali dengan diskusi kelompok dimana tiap kelompok diberikan beberapa pertanyaan, diantaranya:
1. masalah sampah apa yang menjadi konsentrasi teman-teman?
2. mau didaur ulang jadi apa? Apa nilai jual bagi teman-teman lain?
3. bagaimana proses pembuatannya?
4. dari mana bahan-bahannya didapat?
5. bagaimana menyebarkannya?

Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusinya. Ide-ide kreatif dan pertanyaan-pertanyaan dari kelompok lain pun muncul. Kelompok satu memiliki ide untuk membuat payung dari sampah plastik pembungkus, kelompok dua memiliki ide untuk mengolah sampah plastik pembungkus menjadi tas, kelompok tiga ingin membuat tempat pensil dari sampah plastik pembungkus, dan kelompok terakhir memiliki ide untuk membuat hiasan rumah dengan sedotan dan gelas plastik. Dapat disimpulkan bahwa para peserta workshop ini sangat concern terhadap sampah plastik.

Setelah diskusi terakhir tersebut selesai, diberikan kesempatan bagi tiga orang peserta menyampaikan kesannya terhadap kegiatan ini.
– Ike-SMA Tugu Ibu : “saya merasa dapat pembelajaran baru khususnya mengenai global warming dan Climate Change sehingga mendapat ilmu lain di luar pelajaran yang biasa didapat.”
– Angga-SMA YPKD : “saya jadi mengetahui manfaat daur ulang dan melihat fungsi dari sampah.”
– Dipa-SMA Sejahtera1: “Jujur ya, tadinya saya tidak terlalu peduli lingkungan tapi setelah ikut acara ini saya banyak menambah ilmu. Setelah mengetahui dampak global warming dan climate change saya merasa lebih peduli terhadap lingkungan, juga mengetahui cara daur ulang serta melihat manfaat dari sampah.”

Demikian diskusi forum di Depok yang berlangsung pada pukul 13.00 hingga 17.30 itu ditutup. Semoga kita dapat terus menyebarkan ilmu mengenai global warming dan climate change di sekitar kita dan membiasakan diri untuk hidup hemat dan memanfaatkan/mendaur ulang sampah.

Journal by Sarah Balfas

For more information and photo gallery, visit us at http://www.facebook.com/pages/Bogor-Indonesia/Indonesian-Climate-Student-Forum/49372716081?ref=ts

Posted in Our Activities..! | 6 Comments

Climate Change and International Security

CLIMATE CHANGE AND INTERNATIONAL SECURITY

Summer Academy, University of Hamburg, ZNF

Lectured: Prof.Dr.Hartmut Grassl (Max Planck Institute for Meteorology,Hamburg, Germany)

and concluded by Sandro Wellyanto Lubis (Bogor Agricultural University, Indonesia)

Germany, August 2009

“Hallo, I’m Sandro Wellyanto Lubis, undergraduate student of Applied Meteorology Bogor Agricultural University, Research Division of Indonesian Climate Student Forum or ISCF 2009. Ultimately, I was selected to be an Indonesian Student Delegate to participate summer academy “Young Scientist Cooperate for Peace” or ScooP 2009 in Hamburg, Germany. ScooP is the summer academy programme which is supported by DAAD and this year had been hold from the 2nd till 15th of August 2009 in Hamburg. Young scientists from all over Europe and Non-Europe are invited to participate at the academic programme and get involved in the complex field of scientific peace research. Lectures consist of Disarmament Arms Control and Verification of Nuclear, Biological Weapons , Chemical Weapons and Consequences of Climate Change. Together with the colleagues we discuss and analyse the complexity of peace research. Through this summer school,I have also got experiences in the working field of non-governmental organisations (NGOs), peace institutes and politicans and shared the informations and knowledeges from different scientific backgrounds. At this time I would like to share the Climate Change section from the lectures and discussions that has been already done for the summer school programme. I will try to explain clearly and simply, and conclude them”.


Climate change is a change of climate that is attributed directly or indirectly to human activity that alters the composition of the global atmosphere and which is, in addition to natural climate variability, observed over comperable time periods (Hardy 2003). Climate change significantly impacts on ecology and human dimensions. For example in marine environment. It affects sea level, ocean-atmospheric interactions, ocean heat transport, ocean currents and circulation, bio-geochemical  cycles, and marine ecosystem. Changes in this processes, through complicated feedback, will significantly add to climate-change impacts. Climate change also alter human dimensions. Global warming directly effects pattern of human settlement, energy use, transportation, industry, environmental quality, and other aspects of infrastructure that affect our quality of life (IPCC 1990). In addition climate change can directly affect human health because high temperatures place an added stress on human physiology. Study of climate change impact is nessecery for reducing the consequences and key to make arrangements for the mitigation.

Observation on climate change is needed to prove, that the climate has been changing or it is just as issues. Scientists has been developing many scenario in models by using super computer to verify the climate change and mitigation plannings. The GCM and other models has been the main focuss in the scientifict modelling world to project the climate change patterns and get the problem solvings on it. IPCC has developed the climate change scenarios that are able to project the changing of the future global temperature avarage in the world.

temp_sealevel_snow_trends

Picture 1.Observed changes relative to corresponding averages for the period 1961 – 1990

The picture above, inform us from the IPCC 4 WG1 2007 model projection that has been occuring the changing of temperature, global average sea lavel and northern snow cover in the world. The climate change has been indicated of increasing the global temperature rapidly year by year, high temperature that’s also effected on increasing sea level rise every year and decreasing from the total of snow covers in northern hemisphere. So that’s why the climate change policies are needed to implement. Without a stringent globally coordinated climate policy in the coming few decades, all present coastal megacities will disappear in the coming centuries for example. Further reasons for concern are (Prof.Dr.Hartmut Grassl):

  1. Anthropogenic climate change is by a factor of at least 50 faster than natural climate change, if no stringent climate protection policy is started now.
  2. Adaptation to climate change is much easier for the main emitters than for those suffering more strongly from climate change.
  3. Accepting the 1990 reference date for emissions is injust to the developing countries, because emissions up to this date do not count.
  4. Biodiversity is massively endangered by climate change.

ipcc

Picture 2. Multi-model averages and assessed ranges for surface warming

Projections of future global average surface temperature for various IPCC scenarios. The graph shows temperature changes (as compared with the 1980-1999 average, which is used as the baseline) for three scenarios (A2, A1B, and B1). Solid colored lines represent “most likely” trends; shaded regions represent “probable ranges”. The gray bars on the right represent year 2100 temperatures for all six scenarios; the colored stripe represents the “best estimate”, while the shaded gray region represents “likely ranges”. The different scenarios and models predict temperature changes between one and slightly more than six degrees Celsius. (Source: taken from (IPCC 2007a).

Climate change scenario from IPCC 2001a describe that The A1 storyline and scenario family describes a future world of very rapid economic growth, global population that peaks in mid-century and declines thereafter, and the rapid introduction of new and more efficient technologies. The three sub groups of A1 are fossil intensive (A1FI), non-fossil energy sources (A1T), and a balance across all sources (A1B). A2. The A2 storyline and scenario family describes a world of regional self-reliance and preservation of local identities. Fertility patterns across regions converge very slowly, which results in continuously increasing population. Economic development is primarily regionally oriented and per capita economic growth and technological change more fragmented and slower than other storylines. B1. The B1 storyline and scenario family describes a convergent world with the same global population as in the A1 storyline, but with emphasis on global solutions to economic, social and environmental sustainability, including improved equity, the introduction of clean and resource efficient technologies, but without additional climate initiatives. B2. The B2 storyline and scenario family describes a world with emphasis on local solutions to economic, social and environmental sustainability. The global population rate increases more slowly than A2. Compared with A1 and B1, economic development is intermediate and less rapid, and technological change is more diverse. The scenario is also oriented towards environmental protection and focuses on local and regional levels. (adapted from IPCC 2001).

ipcc_chart

Picture3 . IPCC Scenario

IPCC SCenarios

Picture4: The various trend of IPCC Scenarios for Climate Change Projection.

The Global climate on 21st  century will depend on naatural changes and the response of climate system and human activities.  The Main Solutions according to Dr. Christian Müller are :

  1. Increase energy efficiency
  2. Increase fraction of renewables
  3. Cleaner fossil fuels (e.g. CCS, is a carbon capture storage system by geological storage, storages option are oil/ gas reservation,saline aquifers, or coal seams)

CSSPicture 5. Global Carbon Capture Storage System (IPCC)

Why is climate change a threat to international security? According to prof. Grassl it relevans on conflict constellations:

1.Climate-induced degradation of freshwater resources

2.Climate-induced decline in food production

3.Climate-induced increase in storm and flood disasters

4.Conflict constellation “Environmentally-induced migration“

flood and dry season

ipcc_fig-10-18_precip

Can the security risk caused by climate change be avoided?Actions needed for a reduced risk (Proposal by WBGU)

• Fostering a co-operative setting for a multipolar world

– Shaping global political change

– Reforming the United Nations

• Climate policy as security policy: Avoiding dangerous  interference with the climate system

– Ambitiously pursuing international climate policy

– Implementing the energy turnaround in the EU

– Developing mitigation strategies through partnerships

• Climate policy as security policy: Implementing adaptation strategies

– Supporting adaptation strategies for developing countries

– Stabilizing fragile states and weak states that are additionally threatened by climate change

– Managing migration through co-operation and development of international law

– Expanding global information and early warning systems

• If climate protection fails: Strategies in the event of destabilization and conflict

By Sandro Lubis (Sandro.lubis@live.com), ICSF 2009

Posted in Climate Fun Facts | 1 Comment

Approaching of Climate Change by The Milankovitch Theory

Approaching of Climate Change by The Milankovitch Theory

 

By Sandro.W. Lubis

Department of Meteorology and Geophysic, IPB

ICSF, 2009

 

 

Perubahan iklim menjadi bahan pembicaraan yang hangat di kalangan ilmuwan mulai dari kalangan Meteorolog, hingga ke para pakar ekonomi. Begitu banyak asumsi dan perdebatan yang sengit mengenai sumber penyebab terjadinya perubahan iklim. Para ilmuwan memperkenalkan berbagai teori dan metode untuk menjelaskan fenomena ini, mulai dari yang ringan seperti skenario sintetik, skenario analog hingga model yang rumit (GCM) atau Mathematical , physical or Statistical Model.

Pada kesempatan ini saya akan mencoba menjelaskan mengenai teori Milankovitch yang menjelaskan bagaiamana proses pergeseran benda langit secara alami dapat mengakibatkan terjadinya perubahan temperatur secara spasial di permukaan bumi.

Hampir selama 50 tahun teori ini tidak dipedulikan oleh para ilmuwan, tetapi pada tahun 70an konsep ini baru mulai diterima. Revolusi berikutnya dimulai ketika ilmuwan mulai mencoba merekonstruksi data iklim dengan menggunakan metode isotop dari inti samudera. Alhasil ditemukan adanya variasi iklim yang berkorelasi tinggi dengan perubahan geometri orbit bumi.

“Milankovitch mengkaji perubahan pada eksentrisitas orbit bumi (orbital eccentricity), kemiringan sumbu bumi (obliquity), dan presisi sumbu rotasi bumi precession (astronomy) dari seluruh pergerakan bumi. Banyak perubahan yang terjadi pada pergerakan dan jumlah orientasi bumi dan dampaknya terhadap lokasi penerimaan radiasi surya di permukaan bumi.

 

  1. Eccentricity

Eksentrisitas adalah gambaran imajiner dari bentuk orbit bumi terhadap matahari. Variasi orbit bumi pada matahari dimulai dari orbit yang hampir berbentuk lingkaran dimana nilai e=0.0005 hingga bentuknya memanjang dengan e=0.0607. Nilai ini akan sangat mempengaruhi perbedaan musiman, ketika bumi dekat dengan matahari maka bumi akan memperoleh radiasi surya yang tinggi, sebaliknya ketika bumi berada pada posisi terjauh dari matahari maka radiasi yang akan diterima akan rendah. Sehingga jika posisi bumi dekat dengan matahari dan terjadi pada musim dingin maka musim dingin itu akan lebih panas begitu juga pada musim panas maka musim panas akan lebih panas. Total radiasi surya pada saat terjadi perihelion kira-kira 23 % lebih besar dari aphelion.

 

 

eccentricity_cyclePerubahan Eksentrisitas Bumi terhadap Matahari

 

 

2.   Obliquity

Obliquity adalah variasi kemiringan poros bumi dari bidang orbit. Variasi kemiringan adalah 22.1o and 24.5o dan rata-rata yang kita gunakan adalah 23.5o .Perubahan kemiringan ini menghabiskan waktu sekitar 40.000 tahun setiap siklusnya jadi waktu yang dibutuhkan cukup panjang. Karena terjadi perubahan kemiringan ini maka musim di muka bumi menjadi lebih tidak terkendali. Jika kemiringan bumi bertambah maka musim panas akan lebih panas dan musim dingin akan lebih dingin. Sebaliknya jika terjadi pengurangan kemiringan berarti musim panas akan menjadi lebih dingin dan musim dingin akan menjadi lebih panas. Sebagai contoh, jika terjadi kenaikan 1 derajat kemiringan maka energi yang diterima akan meningkat sebesar 1%, wow…saat ini pergerakan mencapai 1.4 km/abad sehingga kemiringan menurun -46.85 inches/century (Berger, 2001).

 

obliquityPerubahan Kemiringan Bumi

 

 


3.   Precession

Presisi adalah perubahan arah orientasi sumbu rotasi bumi. Siklus ini menghabiskan waktu selama 19.000-23.000 tahun. Presisi diakibatkan karena dua aktor yaitu guncangan sumbu rotasi bumi dan perputaran pada orbit elips pada bumi sendiri. Jika obliquity mengakibatkan perubahan kemiringan poros bumi maka presisi akan mengkibatkan perubahan arah rotasi bumi. Dampaknya adalah terjadi perubahan tanggal perihelion dan aphelion dan hal ini akan meningkatkan kontras musim pada salah satu belahan bumi dan sementara pada bagian lainnya penurunan, sebagai contoh saat ini posisi bumi sangat dekat dengan matahari pada saat winter di musim dingin pada bumi belahan utara sehingga musim dingin akan lebih panas dan sebaliknya.

 

precessionPresisi Bumi

 

Para ahli ilmu bumi berpendapat bahwa perubahan iklim di bumi terjadi karena bumi sedang melewati fase ini atau fase internal matahari (sunspot dan lainnya) sehingga mengakibatkan kenaikan suhu permukaan bumi. Berikut adalah contoh perhitungan perubahan iklim yang memiliki nilai yang mirip dengan output GCM.

Asumsi nilai S adalah 1370 w/m2 , suhu rata-rata bumi adalah 287,15K sedangkan a adalah albedo dan e adalah emisivitas.


rumus1

Contoh jika terjadi perubahan S pada matahari yang sampai ke bumi sebesar 1 % sedangkan a dan e konstan maka


rumus2

Sehingga temperatur bumi meningkat sebesar 0.72 C, nilai ini sama dengan nilai model GCM,hal inilah yang menjadi perdebatan antara ilmuwan mengenai fenomena global warming.(Sandro,Lbs)

Bibliography:

  • Kutipan dari kuliah Prof.Ahmad Bey (Deparment of Meteorology and Geophysic)
  • Milankovitch, Milutin (1998) [1941]. Canon of Insolation and the Ice Age Problem. Belgrade: Zavod za Udz̆benike i Nastavna Sredstva. ISBN 8617066199. ; see also “Astronomical Theory of Climate Change”. http://www.ncdc.noaa.gov/paleo/milankovitch.html.

 

 

Posted in Climate Fun Facts | 14 Comments